Bakarat lucky six - Bakarat lucky six

Betting website platform_Gambling platform_Sabah Sports Platform_Yabo official website_Indonesian Football

  • 时间:
  • 浏览:0

Padahal pada tSabah Sports BettSabah Sports BettingingemSabah Sports Bettingu itu aSabah Sports Bettingku tak sama sekali membuat percakapaSabah Sports Bettingn denganmu, bukan? 

Ada dinding-dinding pembatas tak kasat mata bernama kita

Mengatasi kerinduan dengan bertemu 

Kamu berpikir aku akan cepat baik-baik saja, bukan? 

Kita tanpa "Kita"

Berebut tanpa ada perlu diperebutkan

Di matamu, aku perempuan kuat – masih seperti itu; iya? 

Sehingga hanya terungkap bahagia saat kembali ke sarang yang sengaja bebas mereka buat

Kupastikan jari-jariku memberitahumu 

Lagi aku yang mengalah

Air Mata di Jalan Pulang 

Aku pun mengharap kamu jadi 'baik' 

Aku menyesal dengan temu yang kamu ingin tapi aku yang perbuat 

Merusuh pikirku, ternyata katamu merusuh lebih padamu

Sedikit aku, sedikit kamu 

Mungkin kamu yang sangat kamu pun demikian tanpa kita 

Bagaimana bisa kupingku yang sedang sakit menyaksikan kamu pergi padahal tanpa mendengar? 

Burung yang Kembali ke Sarang

Begitu binar renjana kita redup 

Aku dan kamu memastikan kita tak sempat lagi menanggung keberlanjutan – meski kala – kala – la : hilang bak tiupan geli angin

Mereka tak henti mengucap syukur atas segala hal yang diatur Tuhannya 

Katanya: kita tak tahu diri  

(Bus Ekonomi Jaya – Seperempat Jalan Menuju Pulang: Hanya Melihat Kekhawatiran di Ujung Temu Denganmu)

Supaya pekerjaan saling menolong dapat terlaksana dengan baik dan selalu siap 

Kita maki-memaki 

Apa mungkin dinding bernama kita yang tak kasat mata itu roboh sehingga membiarkan aku dan kamu menanggung keberlanjutan? – tanya tanpa kita di ujung lorong keajaiban kita

Burung-burung kembali ke sarangnya

Aku kecewa dengan pertemuan yang tidak mengatasnamakan kita padahal ada banyak cerita yang ingin kubagi atas nama "kita" 

Lalu menjulangkan jari tengah sebagai perlakuan yang paling gampang dilakukan

Meski di antara temu dan pulang ada air mata lagi yang kuhapus kenang atas peristiwa

Kita lari-lari

Menerjang yang katanya segala hal padahal, baru diberi tahu Tuhan itu sama dengan setitik embun pada daun 

Di atas bus yang membawa langkah beratku setelah beri salam pisah lagi denganmu itu 

Upaya jadi sedih, meski ia menyimpan baik atas dirinya

: batu telah terlempar dan tak akan bisa kembali

Pasir pantai telah bersih di ujung-ujung kaki yang jua sedikit luka diantaranya terkena air asin

Meski demikian, pada tiap detik kepakan kecil sayapnya 

Sampai rumah 

Bumbu tanpa kita di antara kita ialah sadar keterbukaan dan keterbentukan tembok-tembok yang sedang terbangun mulai dari awal sebelum kita jadi jarang terlihat

Air mata cuma hiasan?

Cinta jadi sedih juga, meski ia selalu menyertai, tak pergi hanya ikut waktu kita masih lari-lari 

Langit yang cerah ialah keberuntungan yang mereka harap tiap sempat 

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Sebuah jawaban yang tidak sepenuhnya benar

Seolah lihai dalam hal ini – alam yang sekarat menyerapahi lebih 

Tapi memang iya, aku menelan terima dengan lugas – mengikhlas 

Oh, nyatanya bisa 

Aku jadi menemukan ilhamku tanpa kita 

Menggenang tanpa bisa diteteskan cuma di hadapmu

Air mata membuat aliran yang deras dan membuatku mengantuk di atas bus yang bawaku pulang

Tapi kamu yang sangat kamu maju-mundur tak henti 

Mereka telah penuh mengisi perut kosong bayi-bayi burung yang baru saja menetas 

Ngeri, kita sama begidik 

-memang kalau tentang ini

Aku yang disebut aku berhenti

Tentu saja aku menangis!