Bakarat lucky six - Bakarat lucky six

Menakar Anggaran Sosial Zaman Sekarang. Berapa sih Angka Ideal Ngamplopin Orang

  • 时间:
  • 浏览:0

“Aku sih ikuti kondisi keuangan, karena gaji masih UMR kalau yang mengundang sekadar kenal dan nggak akrab gitu amplopin-nya Rp50 ribu, tapi kalau teman dekat dan akrab itu minimal Rp100 ribu. Belum lagi kalau patungan kado sama teman-teman, pengeluarannya sekitar Rp50 ribuan lah,” kata Zhafira (23) saat dihubungi Hipwee Premium.

“Kalau bridesmaid doang jahitin gaunnya habis Rp120 ribu, dapat kado yang Rp50 ribu. Terus karena aku nggak bisa make-up, keluarin Rp300 ribu untuk dandannya. Ditambah lagi beli perintilan make-up termasuk softlens karena mata aku minus, itu habis Rp150 ribu. Kalau nggak, mungkin bisa ditekan ya,” sambungnya.

Harap berlangganan  atau beli akses artikel ini untuk melanjutkan.

“Aku baru pertama kali, senang jadi bagian di hari bahagianya sahabat. Apalagi, acaranya juga lumayan privat, nggak semua diundang jadi berasa ekslusif gitu. Awalnya ada tekanan buat cari model gaun terbagus. Takut ngecewain gitu, lo,” pungkas perempuan berusia 23 tahun ini.

Kalau hajatan yang digelar cukup besar, pemberian amplop bahkan semakin modern dengan barcode scan tanpa tanya nomor rekening. Didorong rasa penasaran, Hipwee Premium pun bertanya perihal tradisi ngamplop ini dan berapa rata-rata anggaran yang dihabiskan dalam sekali undangan.

Takut pemberian kurang | Credit: Hipwee

“Sebenarya kalau nggak dekat-dekat banget, nggak enak kalau nggak balas budi,” lanjutnya.

Nggak bisa dimungkiri kalau kebiasaan tersebut memang sudah lumrah terjadi di lingkungan kita. Maka dari itu, banyak yang akhirnya menyisihkan pendapatan untuk pos kepentingan berjudul “Anggaran Sosial” ini.

Ngobrolin soal syukuran pesta pernikahan, ada satu hal yang nggak bisa terlepas dari itu. Yup, apalagi kalau bukan amplop kondangan atau sumbangan. Hal ini termasuk lumrah di masyarakat, lihat saja dari adanya kotak yang biasanya disediakan di depan pintu masuk untuk menyambut para tamu.

Baginya momen kelulusan seperti mendandakan bahwa teman-temannya akan memilih jalan berbeda, pertemuan pun tak akan serutin biasanya. Maka dari itu, pemberian hadiah ini dianggap sebagai ucapan selamat sekaligus terima kasih atas hubungan yang telah dibina. Meski demikian, Saffa menyadari di sana juga ada alasan balas budi. Misalnya, ketika ia lepas sidang teman memberikan hadiah, maka di lain waktu akan diberi hal serupa.

Mengeluarkan anggaran dengan motif semacam ini sebenarnya sah-sah saja. Apalagi, mengingat tujuan yang memang untuk menjaga silahturahmi dan memberi kebahagiaan. Beberapa cara di atas bahkan bisa dikategorikan hubungan timbal balik, kecil kemungkinan untuk muncul perasaan bakal dirugikan. Namun, perlu ditekankan bahwa sebetulnya nggak ada hukum wajibnya untuk seseorang memberi sesuatu ke orang lain dalam bentuk materi. Semua ini murni karena tuntutan moral saja.

Menurut Athaya, peliknya menjadi seorang bridesmaid bukan perihal uang, melainkan persiapan sebelumnya yang kadangkala membuat bingung, apalagi hal ini merupakan kali pertama. Meski demikian, memang diakui bahwa keterlibatan menjadi bridesmaid membawa kebahagiaan. Di samping menghargai persahabatan yang dijalin, juga mampu menyukseskan jalannya acara.

Ia pun menjelaskan bahwa pemberian uang kepada mempelai merupakan bentuk ikut merasakan kebahagiaan, terlebih sudah menyertakan namanya untuk diundang.

“Sebagai ucapan selamat, terus misalkan yang mengundang nggak dekat banget, sebagai ucapan terima kasih sudah diundang. Dengan artian, untuk menghargai acara mereka,” sambungnya.

Lantas, sebenarnya apa sih yang menjadi latar belakang dari tradisi pengeluaran untuk kepentingan sosial? Kok bisa ya hal ini berhasil jadi kebiasaan di masyarakat? Nah, karena penasaran dengan ‘standarnya’, Hipwee Premium melakukan riset kecil-kecilan soal anggaran sosial ini ke beberapa pihak. Yuk, langsung simak jawaban mereka!

Pengantin akan memberikan gaun atau pakaian seragam berupa kain untuk dijahit. Makanya, mereka yang menerima perlu memikirkan desain yang cocok hingga mencari tahu tempat jahit yang sesuai. Kepada Hipwee PremiumAthaya menceritakan pengalaman pertamanya menjadi seorang pendamping pernikahan.

Kalau ngomongin soal tradisi saling membantu tanpa diminta, orang Indonesia juaranya. Sifat kayak gini memang udah identik sejak zaman dulu, bahkan berlangsung hingga sekarang. Buktinya, melihat orang tengah kesulitan di jalanan pun banyak yang langsung turun tangan untuk menolong, padahal belum tentu pernah mengenal bahkan bertemu sebelumnya. Apalagi, kalau sudah saling mengenal selama beberapa waktu.

Anggaran jadi bridesmaid | Credit: Katelyn MacMillan on Unsplash

Di sisi lain, ada juga yang menganggap tradisi amplop saat nikahan ini minimal menutup biaya hidangan yang disantap. Bahkan, jika merasa mampu, memberikan lebih banyak tak masalah karena bisa sekaligus bersedekah.

Dengan demikian, jika memang tak sesuai dengan prinsip dan kondisi keuangan, ya jangan dipaksakan. Apalagi, kalau sekadar gengsi dan takut dengan pandangan orang lain, sampai bisa memberatkan diri dengan utang atau semacamnya. Kalau memiliki uang lebih dan bahagia melakukan hal tersebut justru bagus, kan. Nah, menjawab pertanyaan di awal, jadi nggak ada tuh standar minimal untuk menyumbang atau membahagiakan seseorang. Sejatinya hanya berdasarkan rasa ikhlas dan kemampuan finansial yang berbeda-beda.

“Penginnya include semua make-up dan gaun, jadi kita nggak perlu bingung sendiri untuk cari penjahit sama make-up artist, tapi ini bakal jadi anggaran yang gede juga buat mereka (pengantinnya). Makanya, juga harus diimbangi sama tugas bridesmaid yang lebih strategis,” tuturnya.

Penggambaran bridesmaid yang mesti tampil paripurna membuatnya mempersiapkan sedetail mungkin, dari mulai jahit seragam, pemberian kado, hingga perlengkapan penunjang selama acara berlangsung. Kalau ditaksir, satu kali berpartisipasi menjadi bridesmaid mampu menguras kantong di atas Rp500 ribu.

“Sekitar 20 orang lebih (yang dihadiahi) karena teman sekelas, ada juga yang di luar kampus, teman dekat, lulusnya barengan. Bujet habis hampir Rp1 juta. Waktu lulus lagi pandemi, jadi hadiah dikirim via online ini salah satu yang membuat anggaran jadi besar. Seringnya aku kirim makanan dari kue, pizza, kopi seliteran ke teman-teman. Dari awal sudah nabung, kalau bujet lebih baru pakai uang pribadi,” pungkas Saffa.

“Aku lebih banyakin sumbangan untuk melayat karena jatuhnya seperti kasih sedekah ke orang yang lebih membutuhkan,” tegas Katarina.

Hubungan yang erat antara satu dengan lainnya mampu membuat seseorang jadi merasa punya tanggung jawab untuk memberikan kebahagiaan yang sama. Misalnya saja, kebiasaan pemberian amplop atau sumbangan saat perayaan. Mulai dari pesta pernikahan, ulang tahun, hingga momen hari raya tak luput dari yang namanya sumbang uang.

Seperti halnya yang dialami Saffa Fauziah. Ia bahkan sudah mempersiapkan anggaran ketika wisuda pada 2020 silam. Mempunyai relasi yang cukup luas membuat perempuan 22 tahun ini ingin memberikan kenang-kenangan bagi teman seperjuangan.

Masuk usia kepala dua, undangan pernikahan hingga ajakan menjadi bridesmaid pun tak sedikit yang mengalami. Biasanya kerabat pengantin akan memakai busana serupa selama momen sakral berlangsung. Sebenarnya, kebiasaan yang satu ini bukan tradisi asli Indonesia, melainkan diadaptasi dari budaya Romawi kuno. Namun, masifnya penggunaan media sosial memang menjadi salah satu faktor tren bridesmaid begitu lumrah di negara +62.

Hal serupa juga sering terjadi pada perayaan ulang tahun, di mana satu kelompok bergantian untuk menciptakan momen spesial. Tak jarang, beberapa orang patungan untuk melakukan hal yang sama. Jika sebelumnya setiap pengeluaran digambarkan untuk momen kebahagiaan, sumbangan sosial nyatanya juga diberikan kepada mereka yang tengah beduka cita.



Lanjut baca dengan login terlebih dahulu.

Hubungan pertemanan itu bisa dibilang simbiosis mutualisme. Kebiasaan pemberian hadiah di Indonesia bukan hanya ditemukan di momen pernikahan, tetapi juga dari tingkatan pertemanan. Kamu mungkin sudah nggak asing ketika  memberi hadiah kepada teman saat momen kelulusan hingga perayaan ulang tahun.

Sesuai bujet saja | Credit: Hipwee

“Tergantung seberapa dekatnya hubungan kita, minimal bisa menutup biaya hidangan yang dimakan. Lihat juga mereka hanya kenalan atau saudara, kalau orang dekat dilebihin karena niatnya juga ingin membantu. Rp200 ribu sampai Rp500 ribu jika acaranya digelar di venue besar,” ungkap sosok bernama Tasya (27).